Renungan ozon yang bolong
Setelah pepohonan ditebangi, yang paling rindang adalah doa.
Selamatkan-selamatkan dirimu!
Bau busuk pestisida, limbah janji kata-kata kini meracuni udara. sesak dan pengap,
melentingkan kita bagai belalang yang terlontar.
Kini ….
Tak ada lagi hening bulan di langit cerah, tak ada lagi derik jangkrik yang mengais di malam sunyi.
Yang ada hanya dengung liar lalat hijau di telinga, seolah bertanya:
“Saat ini, kita dan dunia kita sedang berjalan kemana? ke rumah masa silam yang tentram atau berbelok ke negeri akhirat!”
Kelak bila tanah ini tenggelam di tangga batu paling tinggi, sejengkal lagi menuju langit.
sabdakan berkali hati-hati mantra suci ini:
Allahu Akbar … Allahu Akbar…
Siapa tahu di depan kita masih ada jalan lurus terbentang.
Selamatkan-selamatkan dirimu.









Mungkin jalan ini masih panjang terbentang, namun……
usia kita tak sepanjang jalan……………………………………
Mungkin alam mulai tampak lesu dan murka, namun……
Kita belum tentu perduli dan peka
Mungkin usia alam mulai tua…… namun….
Kita tak perduli dan mengabaikannya.
Mungkin dunia ini telah lama berjalan hingga lelah, namun
Kita tetap sibik dengan fatamorgana yang ada
Kapan, kapan dan kapan
Ketika bencana datang kita hanya menanggis dan pasrah.
Mungkin jalan ini masih panjang terbentang, namun……
usia kita tak sepanjang jalan……………………………………
Mungkin alam mulai tampak lesu dan murka, namun……
Kita belum tentu perduli dan peka
Mungkin usia alam mulai tua…… namun….
Kita tak perduli dan mengabaikannya.
Mungkin dunia ini telah lama berjalan hingga lelah, namun
Kita tetap sibuk dengan fatamorgana yang ada
Kapan, kapan dan kapan
Ketika bencana datang kita hanya menanggis dan pasrah.
Kenapa pohon ditebangi, biar lebih banyak space buat manusia. Kenapa pestisida ditebar, biar pohon bisa dipanen lebih banyak. Wo liegt das problem? Masalahnya apa?
Manusianya tambah banyak, aturan tetap nggak jelas. Itu yang terjadi di negeri tercinta ini. Secara enviromental negeri ini sudah rusak. Alamnya, manusianya. Buktinya? Alamnya? Ketika musim hujan tiba, bencana di mana-mana, karena pohon-pohon ditebangi. Bagaimana nggak ditebangi, butuh tempat buat membangun tempat berteduh, butuh tempat buat bercocok tanam. Manusianya? Ketika alam ber-evolusi yang ditunjukan dengan bergeser-gesernya kerak bumi yang kita sebut gempa terjadi, banyak orang membantu, banyak juga yang makin giat mencari keuntungan dalam kesulitan orang lain. Selalu saja terlihat banyak ketidakberesan dalam soal penyelamatan, bantuan, apalagi recovery. Yang terlihat akhirnya, hiruk pikuk manusia yang berlomba-lomba membuat keuntungan untuk dirinya sendiri.
Aturan harus berjalan.Harus ada pemimpin yang bisa membuat aturan itu berjalan. Pemimpin. Sampai kapan Tuhan Yang Maha Kuasa menyembunyikan pemimpin yang memang bisa memimpin bangsa kita.
http://atinurul.wodrpress.com