DIALOG NURANI

Jika kita bertanya Tuhan itu seperti apa? bagaimana kita menjawab?, ranah ini terlalu sulit dijawab oleh manusia dengan segala keterbatasannya. jawaban paling singkat mungkin “Itu pertanyaannya yang salah wong Tuhan tiada duanya kok tanya Tuhan seperti apa?

Dari cuplikan di atas teologi tentang larangan memikirkan atau menjamah zat Tuhan itu sendiri suadah banyak dituliskan di Al Qur’an, tapi pernahkah kita berpikir mengapakah kita dilarang menjamah daerah itu?

Mungkin pendekatan paling bisa dipahami adalah sifat ke-Esaan Tuhan sendiri, jika Tuhan Yang Maha Esa, oleh manusia dibayangkan Zatnya, walaupun dengan metode cosmic dan filosofis maka akan tetap bertabrakan dengan logika bahwa Tuhan itu Maha Esa, maka dengan otomatis kita menciptakan Tuhan dipikiran, dan Tuhan itu sendiri, yang akhirnya sifat ke-Esaan tadi jadi tidak berfungsi.

Kesimpulannya bahwa ke-Esaan Tuhan bersifat mutlak, dan itu yang membatasi kita untuk menjamah daerahnya.

by romeo

~ by azwirdafrist on January 15, 2008.

4 Responses to “DIALOG NURANI”

  1. Allah Maha Esa, artinya Allah itu Satu. Tapi………………. apa dan bagaimana memaknai arti Satu itulah yang jarang difahami oleh kita umat Islam. Mungkin kita perlu belajar dan belajar kerana sumber ilmu yang paling hakiki adalah Al-Qur’an

  2. apakah memang kita tidak boleh bertanya eksistensi Allah? padahal dengan kita selalu mencari dan penggalian makna atas eksistensi-Nya, kita akan selalu ingat keberadaan-Nya. ketika kita melakukan pencarian dan penggalian makna tersebut, maka otomatis kita akan mencoba lebih jauh menanyakan eksistensi Allah…ketika kita menghentikan pencarian dan penggalian makna, maka kita akan lupa kepada-Nya, ujung-ujungnya adalah lupa akan eksistensi kita sendiri sebagai hamba (abd’ Allah) sekaligus wakil-nya (Khalifatullah fil ardh). apa begitu ya? …
    http://ajidedim.wordpress.com

  3. manusia diberi akal oleh Alloh untuk berpikir. Ada hal-hal yang yang tidak bisa ditembus oleh akal, karena akal adalah hasil ciptaan, berarti Alloh lebih tinggi dari akal manusia itu sendiri. Manusia tidak akan mampu menembus eksistensi Tuhan, kalau kita kebablasan, kita akan seperti orang-orang Barat yang menuhankan akal. Akhirnya berkesimpulan bahwa Tuhan itu ga’ ada. Ati-ati ya, batasan itu jelas kok, mana yang harus dipikir dan mana yang harus diterima–yaitu iman. Iman itu artinya keyakinan, ia bersemayam dan tidak semua orang diberi hidayah itu oleh Alloh. Kita mengenal tuhan melalui ciptaannya, udara yang merupakan ciptaan Alloh tidak dapat dilihat, diraba, tapi dapat dirasakan. Merenung…rasakan semua hal yang kita punya, yang semuanya adalah pemberian-Nya. Insya Alloh akan merasakan keagungan Tuhan.

  4. buat mbak dewi, semua tahu batasan itu , tetapi tidak menjawab pertanyaan ketidak bolehan, sebenarnya saya sudah menjabarkan dalam tulisan saya, dalam hal ini saya hanya menjabarkan bahwa al quran sebagai intisari alam semesta itu telah terbukti dengan teologi teologi yang mendasar dan mudah seperti yang saya pertanyakan, dan sifat keuniversalannya sangat mendasar sekali, maka bangglah sebagai orang muslim.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: