JENDHUL’S DAILY ACTIVITIES

“Tulalit ….tulalit …. Tulalit……” jam beker kepunyaan jendhul, made in Mendex city, bercuap-cuap dengan gembira. Sambil ngucek-ngucek matanya dan senam moeloet, Jendhul menghirup nafas dalam-dalam.

“Wuah … ehm… selamat pagi kos-kosanku etrsayang”

Tanpa ba bi bu lagi, jendhul melangkahkan kakinya dengan mantap ke kamar mandi kelas ekonomi.

“Oo….. Jendhul namaku … pinter otakku…. Kaya Ensten … Ooo …. Jendhul … ndul….. aw… ayeh” Jendhul pun bersenandung dalam jedhing. Suaranya yang khas kayak ayam terjepit campur knalpot motor Sharley Dan-vidcon, membuat semua kecoa di jedhing itu unjuk rasa.

Tapi dasar Jendhul, rupanya ia ikut-ikutan tren anggota DPR. Cuek Bebek. Dan para kecoa itu pun ditinggalkan begitu saja. Dengan Badan bullet yang hanya dibalut dengan handuk warna kopi susu, karena setahun nggak dicuci, Jendhul melenggak-lenggok keluar jedhing. Persis lepet nari jaipongan.

Jam tulalit Jendhul menunjukkan pukul 06.00.

“Dasar jam tulalit! Matahari udah tinggi, masih dibilang jam enam.”

Setelah berganti baju SMU-nya, jendhul pun berangkat sekolah. Tapi sebelumnya di amelirik jam dinding di ruang tamu kos-kosannya.

“Lho, kok sudah jam setengah delapan. Telat nih aku. TApi taka pa …. Lebih baik terlambat daripada bolos sekolah. Tul Nggak?” Katanya sambil ngadep ke monyet piaraannya bu kos.

Jendhul pun langsung berangkat dengan jalan ala The Flash merangkak. Persis keong sekarat.

SZesampainya di sekolah, pukul 10.00. Jendhul nyelonong masuk kelas. Pak Satpam dan guru piketpun dikacangin gitu aja.

“Lho… Jnedhul. Pagi benar kamu dating….” Suara bu guru membelah kelas.

“Ya pasti dong, Bu. Jendhul kan anak rajin. Bapakku dulu jam segini masih senam moeloet di atas amben, Bu.” Jawab Jendhul bangga.

“Sudah…sudah…. Cepat keluarkan pe-ernya!” kata Bu guru lagi.

“Pe-er yang mana bu?”

“itu …., pe-er yang ibu suruh buat karangan non-fiksi.”

“ Ooo… yang itu, Bu. Ini, saya sudah buat. Saya rajin kan Bu?”

“Ya…ya… cepat bacakan di depan kelas.”

“Ok deh, Bu! Suatu hari ibu ke pasar dan berniat membeli fiksi. Fiksi tu we kek yang mempercantik wajah. KArena itu tidak ada, maka ibu mempeli yang non-fiksi. Ibu membeli Ah-fon. Ternyata, yang non-fiksi itu lebih mahal dan …..”

“Sudah…. Sudah …. Cukup. Bagus sekali karanganmu itu. Dasar Bocah sableng! Buat karanga yang serupa itu 100 x, kumpulkan minggu depan!” KAta bu guru sambil menahan tawa.

Jendhul kira karangannya itu bagus. Karena semua teman sekelasnya memberikan atensi yang luarr biasa, yaitu ketawa ngakak. Gerrr…….

~ by azwirdafrist on August 12, 2008.

One Response to “JENDHUL’S DAILY ACTIVITIES”

  1. Fiksi itu apa ya, Mbak? Kok saya jadi merasa seperti Jendhul yang gak ngerti arti fiksi…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: